Silek Minang

Silek (silat) adalah seni beladiri yang dimiliki oleh masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, Indonesia yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Masyarakat Minangkabau memiliki tabiat suka merantau semenjak beratus-ratus tahun yang lampau. Untuk merantau mereka harus memiliki bekal yang cukup dalam menjaga diri dari hal-hal buruk selama di perjalanan atau di rantau, misalnya diserang atau dirampok orang. Selanjutnya daerah Nusantara ini adalah daerah yang subur dan merupakan tempat rempah-rempah penting sejak abad pertama masehi, tentu saja ancaman keamanan bisa saja datang dari pihak pendatang ke kawasan Nusantara ini. Jadi secara fungsinya silat dapat dibedakan menjadi dua yakni sebagai alat untuk panjago diri (pembelaan diri dari serangan musuh), juga sebagai alat untuk panjago nagari (sistim pertahanan negeri). Untuk dua alasan ini, maka masyarakat Minangkabau pada tempo dahulu perlu memiliki sistem pertahanan untuk mempertahankan negerinya dari ancaman musuh.

Silek tidak saja sebagai alat untuk beladiri, tapi juga mengilhami atau menjadi dasar gerakan berbagai tarian dan randai (drama Minangkabau). Kata pencak silat di dalam pengertian para tuo silek (guru besar silat) adalah mancak (pencak) dan silek (silat). Perbedaan dari kata itu adalah:

  • Kata mancak (pencak) atau dikatakan juga sebagai bungo silek (bunga silat) adalah berupa gerakan-gerakan tarian silat yang dipamerkan dalam acara-acara adat atau acara-acara seremoni lainnya. Gerakan-gerakan untuk mancak diupayakan seindah dan sebagus mungkin karena untuk pertunjukkan.
  • Kata silek (silat) itu sendiri bukanlah untuk tari-tarian, melainkan suatu seni pertempuran yang dipergunakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh, sehingga gerakan-gerakannya diupayakan sesedikit mungkin, cepat, tepat, dan melumpuhkan lawan.

Para tuo silek mengatakan kalau mamancak di galanggang, kalau basilek dimuko musuah (jika melakukan tarian pencak di gelanggang, sedangkan jika bersilat untuk menghadapi musuh). Oleh sebab itu para tuo silek (guru besar) jarang ada yang mau mempertontonkan keahlian mereka di depan umum bagaimana langkah-langkah mereka melumpuhkan musuh.

Orang yang mahir bermain silat dinamakan Pandeka (Pendekar). Gelar Pandeka ini pada zaman dahulunya dilewakan (dikukuhkan) secara adat oleh ninik mamak dari nagari yang bersangkutan. Namun pada zaman penjajahan gelar dibekukan oleh pemerintah Belanda. Setelah lebih dari seratus tahun dibekukan, masyarakat adat Koto Tangah, Kota Padang akhirnya mengukuhkan kembali gelar Pandeka pada tahun 2000-an. Pandeka ini memiliki peranan sebagai parik paga dalam nagari (penjaga keamanan negeri), sehingga dibutuhkan dalam menciptakan negeri yang aman dan tentram.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Silek